Perpisahan merupakan hal yang
wajar dalam hidup, karena setiap ada pertemuan pasti akan ada perpisahan (aihh
klise sekali). Juga masih terasa wajar untuk sebuah hubungan jarak jauh, dan
masih dengan alasan karena setiap pertemuan akan tiba saatnya perpisahan. Tapi
perpisahan kali ini begitu asing bagiku, perpisahan dengan perih mengiris
rasaku. Sungguh bukan main dahsyatnya kata “perpisahan” itu.
Saat melihatnya melangkah kecil menaiki
tangga bus itu, semakin teriris hatiku. Ingin rasanya aku melompat dan duduk
menemani perjalanannya, tapi kakiku ngilu, hatiku kaku, tanganku bahkan tak
sanggup melambai sebagai tanda “goodbye” dan mulutku tiba-tiba saja kelu. Aku
hanya berdiam mematung entah untuk berapa lama, aku terpaku menyaksikan bus
yang membawanya perlahan menjauh.
Jujur saja aku ingin malam itu seperti kisah
di sinetron –yang entah dia turun dimana tapi tiba-tiba saja sudah ada di
sampingku- dan kemudian dia tersenyum padaku dan berbisik “aku takkan pernah
meninggalkanmu”, tapi saat aku menoleh, tak kutemukan dia seperti yang aku
harapkan, yang ada hanyalah tikus-tikus got yang mengintaiku dari balik gelap
dan tersenyum sinis. Aku membalas senyum tikus sialan itu lalu beranjak
meninggalkan tempat kita berpisah -yang mulai detik itu aku membencinya-,
perlahan-lahan aku juga mulai mengumpat pada bus yang membawanya pergi dariku.
Setiba di kamarku, perih berubah
menjadi sedih tak terkira, sedih berubah jadi sepi, dan sepi berubah jadi
hampa. Iya, hampa!. Ruang ini terasa berkali lipat luasnya sehingga membuatku
serasa bisa menerobos dinding2 kamar tetanggaku, mendengar tawa ejek dari
mereka. Ah, ingin sekali aku melempar remote TV yang sekarang tak berguna –Tv
rusak :(-
tepat di hidung mereka. Saat-saat seperti ini juga yang membuatku ingin
menyumpal mulut unggas-unggas ibu kos yang berisiknya kayak orang sekarat.
Titik air mata turun membasahi
pipiku, membasahi hatiku. Ruang ini benar-benar memusuhiku malam ini. Kosong. Tiba-tiba saja aku merasa asing di kamarku sendiri.
Kasih,
Aku ingat tadi pagi kita masih
tertawa disini,
Bertukar cerita, bertukar rasa..
Aku masih merasakan pelukan
terakhirmu,
Begitu erat dan.... nyaman.
Tapi sekarang,
Aku sendirian sedang menyaksikan
malam yang bercerai dengan bulan
Mendung bergelayutan, awan-awan
gelap tlah merobek cerianya bintang,
Seakan ikut berkabung untuk
perpisahan kita.
Ku pandangi lagi bingkai foto
kita,-untuk kesekian kalinya-
Disana kulihat kerlingan matamu
dan senyum manjamu
Semakin airmata menderas..
Ah, tak sanggup lagi aku
berkidung sedih.
Baik-baik di sana sayang. I'll be missing you..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar