Be strong enough to face the world each day, Be weak enough to know you can not do everything alone. Be wise enough to know that you do not know everything. Be willing to share your joys. Be willing to share the sorrows of others.

Kamis, 09 Februari 2012

Tonight will be empty


Perpisahan merupakan hal yang wajar dalam hidup, karena setiap ada pertemuan pasti akan ada perpisahan (aihh klise sekali). Juga masih terasa wajar untuk sebuah hubungan jarak jauh, dan masih dengan alasan karena setiap pertemuan akan tiba saatnya perpisahan. Tapi perpisahan kali ini begitu asing bagiku, perpisahan dengan perih mengiris rasaku. Sungguh bukan main dahsyatnya kata “perpisahan” itu.

Saat melihatnya melangkah kecil menaiki tangga bus itu, semakin teriris hatiku. Ingin rasanya aku melompat dan duduk menemani perjalanannya, tapi kakiku ngilu, hatiku kaku, tanganku bahkan tak sanggup melambai sebagai tanda “goodbye” dan mulutku tiba-tiba saja kelu. Aku hanya berdiam mematung entah untuk berapa lama, aku terpaku menyaksikan bus yang membawanya perlahan menjauh.

Jujur saja aku ingin malam itu seperti kisah di sinetron –yang entah dia turun dimana tapi tiba-tiba saja sudah ada di sampingku- dan kemudian dia tersenyum padaku dan berbisik “aku takkan pernah meninggalkanmu”, tapi saat aku menoleh, tak kutemukan dia seperti yang aku harapkan, yang ada hanyalah tikus-tikus got yang mengintaiku dari balik gelap dan tersenyum sinis. Aku membalas senyum tikus sialan itu lalu beranjak meninggalkan tempat kita berpisah -yang mulai detik itu aku membencinya-, perlahan-lahan aku juga mulai mengumpat pada bus yang membawanya pergi dariku. 

Setiba di kamarku, perih berubah menjadi sedih tak terkira, sedih berubah jadi sepi, dan sepi berubah jadi hampa. Iya, hampa!. Ruang ini terasa berkali lipat luasnya sehingga membuatku serasa bisa menerobos dinding2 kamar tetanggaku, mendengar tawa ejek dari mereka. Ah, ingin sekali aku melempar remote TV yang sekarang tak berguna –Tv rusak :(- tepat di hidung mereka. Saat-saat seperti ini juga yang membuatku ingin menyumpal mulut unggas-unggas ibu kos yang berisiknya kayak orang sekarat.

Titik air mata turun membasahi pipiku, membasahi hatiku. Ruang ini benar-benar memusuhiku malam ini. Kosong. Tiba-tiba saja aku merasa asing di kamarku sendiri.

Kasih,
Aku ingat tadi pagi kita masih tertawa disini,
Bertukar cerita, bertukar rasa..
Aku masih merasakan pelukan terakhirmu,
Begitu erat dan.... nyaman.

Tapi sekarang,
Aku sendirian sedang menyaksikan malam yang bercerai dengan bulan
Mendung bergelayutan, awan-awan gelap tlah merobek cerianya bintang,
Seakan ikut berkabung untuk perpisahan kita.

Ku pandangi lagi bingkai foto kita,-untuk kesekian kalinya-
Disana kulihat kerlingan matamu dan senyum manjamu
Semakin airmata menderas..

Ah, tak sanggup lagi aku berkidung sedih.
Baik-baik di sana sayang. I'll be missing you..  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar