Perpisahan merupakan hal yang
wajar dalam hidup, karena setiap ada pertemuan pasti akan ada perpisahan (aihh
klise sekali). Juga masih terasa wajar untuk sebuah hubungan jarak jauh, dan
masih dengan alasan karena setiap pertemuan akan tiba saatnya perpisahan. Tapi
perpisahan kali ini begitu asing bagiku, perpisahan dengan perih mengiris
rasaku. Sungguh bukan main dahsyatnya kata “perpisahan” itu.
Saat melihatnya melangkah kecil menaiki
tangga bus itu, semakin teriris hatiku. Ingin rasanya aku melompat dan duduk
menemani perjalanannya, tapi kakiku ngilu, hatiku kaku, tanganku bahkan tak
sanggup melambai sebagai tanda “goodbye” dan mulutku tiba-tiba saja kelu. Aku
hanya berdiam mematung entah untuk berapa lama, aku terpaku menyaksikan bus
yang membawanya perlahan menjauh.