Be strong enough to face the world each day, Be weak enough to know you can not do everything alone. Be wise enough to know that you do not know everything. Be willing to share your joys. Be willing to share the sorrows of others.

Kamis, 12 Januari 2012

Kisah yang tak perlu ada

Dalam hidup, kadang seseorang terlalu  lelah untuk bertahan pada satu titik dimana dia merasa  penderitaan sebagai tumpuannya. Kebahagiaan layaknya sebuah fatamorgana, jauhh dan tak ada ujungnya
Pernahkah kita dilanda dilema seperti ini?

Semangat telah begitu saja luntur. Hidup hanya bagai tong sampah yang menampung keluh serta caci maki. Lebih dari itu, tong itu  sesak oleh  sampah dan sumpah serapah yang berserakan. . Haruskah kembali memungut kepingnya? Tak ada. Tak ada yang tersisa selain keping-keping penghinaan untuk dirinya sendiri.

Harapan pun terkikis,  seakan tak mampu lagi menyangga beban di setiap hembus nafas lelahnya. lelah.. benar-benar lelah... Sekian lama hanya  berputar di atas lingkaran yang hanya berisi isak tangis kepedihan. Jenuh ia harus mengulang tanya  “dimanakah kebahagiaan itu? “

Mimpi-mimpi telah usang, terlupakan oleh kerasnya hidup.  Keras dan mengeras. Bagai hati yang telah beku. 

Pernah suatu malam, aku mengeja kata dalam pusaran angin yang berputar-putar di kepalanya..

Aku memang tak punya mawar yang mekar, Aku hanya punya pupuk dengan bau menusuk dan aku hanya membuat mawar itu terus tumbuh harum dan kekar.. bukankah aku berguna? tapi aku terabaikan oleh duri tajamnya..kau tentu paham maksudku, kawan.. kau pasti sangat paham.

Aku lelah kawan, aku lelah bersenandung kepedihan. Mengiba do’a dalam setiap kata. Sudah jutaan, kawan, bahkan tak terkira lagi do’a2 ku panjatkan, usaha ku tingkatkan. 

Aku merek-reka  sendiri jawaban do’aku, ku temukan ia dalam secarik sajadah biru dalam kalbuku “USAHA”. Iya.. usaha kawan! Dulu aku bertanya,kurang giatkah aku memeras keringat? Sekarang aku temukan jawaban “memang aku kurang giat memeras otak dan keringat”. 

Andai aku punya kuasa atas waktu, aku ingin kembali muda, aku ingin membangunnya dari “NOL” agar tulisan hina ini tak pernah ada. Kini, Aku sudah terlambat, kawan. Aku terlambat untuk membangun bahagia dalam jiwaku, karna aku telah lumpuh dan kerdil untuk kekalahanku. 

Atau aku yang tak pernah bersyukur? Jelaskan kawan. Tentang rasa syukur itu.

 Aku sudah terlalu tua untuk bersenda gurau dengan kehidupan ini. Jangan jadi pengecut sepertiku, kawan. Karna nanti yang kau temukan hanya penyesalan. Dan kau akan menyimpang sebuah tong sampah berisi cacian.

Speechless. Hanya bisa mengulang tanya “SEBERAPA GIATKAH KITA HARI INI? SUDAHKAH BERSYUKUR UNTUK HARI INI DAN YANG TELAH LALU?”  Berharap kisah ini tak pernah ada lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar