Dalam hidup, kadang seseorang
terlalu lelah untuk bertahan pada satu
titik dimana dia merasa penderitaan
sebagai tumpuannya. Kebahagiaan layaknya sebuah fatamorgana, jauhh dan tak ada
ujungnya
Pernahkah kita dilanda dilema seperti ini?
Semangat telah begitu saja
luntur. Hidup hanya bagai tong sampah yang menampung keluh serta caci maki. Lebih
dari itu, tong itu sesak oleh sampah dan sumpah serapah yang berserakan. .
Haruskah kembali memungut kepingnya? Tak ada. Tak ada yang tersisa selain
keping-keping penghinaan untuk dirinya sendiri.
Harapan pun terkikis, seakan tak mampu lagi menyangga beban di
setiap hembus nafas lelahnya. lelah.. benar-benar lelah... Sekian lama hanya berputar di atas lingkaran yang hanya berisi
isak tangis kepedihan. Jenuh ia harus mengulang tanya “dimanakah kebahagiaan itu? “
Mimpi-mimpi telah usang,
terlupakan oleh kerasnya hidup. Keras
dan mengeras. Bagai hati yang telah beku.
Aku memang tak punya mawar yang mekar, Aku hanya punya pupuk dengan bau
menusuk dan aku hanya membuat mawar itu terus tumbuh harum dan kekar.. bukankah
aku berguna? tapi aku terabaikan oleh duri tajamnya..kau tentu paham
maksudku, kawan.. kau pasti sangat paham.
Aku lelah kawan, aku lelah bersenandung kepedihan. Mengiba do’a dalam
setiap kata. Sudah jutaan, kawan, bahkan tak terkira lagi do’a2 ku panjatkan,
usaha ku tingkatkan.
Aku merek-reka sendiri jawaban
do’aku, ku temukan ia dalam secarik sajadah biru dalam kalbuku “USAHA”. Iya..
usaha kawan! Dulu aku bertanya,kurang giatkah aku memeras keringat? Sekarang aku
temukan jawaban “memang aku kurang giat memeras otak dan keringat”.
Andai aku punya kuasa atas waktu, aku ingin kembali muda, aku ingin
membangunnya dari “NOL” agar tulisan hina ini tak pernah ada. Kini, Aku sudah
terlambat, kawan. Aku terlambat untuk membangun bahagia dalam jiwaku, karna aku
telah lumpuh dan kerdil untuk kekalahanku.
Atau aku yang tak pernah bersyukur? Jelaskan kawan. Tentang rasa syukur
itu.
Aku sudah terlalu tua untuk
bersenda gurau dengan kehidupan ini. Jangan jadi pengecut sepertiku, kawan.
Karna nanti yang kau temukan hanya penyesalan. Dan kau akan menyimpang sebuah
tong sampah berisi cacian.
Speechless. Hanya bisa mengulang
tanya “SEBERAPA GIATKAH KITA HARI INI? SUDAHKAH BERSYUKUR UNTUK HARI INI DAN
YANG TELAH LALU?” Berharap kisah ini tak
pernah ada lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar