Tuhan menganugerahkan hati di setiap insan manusia, dan airmata
dalam kelopak mata kita. Aku sering melepaskan air itu dari kelopakku, entah
untuk hal-hal yang mengecewakan, menyedihkan bahkan ungkapan bahagia saat
kata-kata sudah tak mampu menggambarkannya.
Biasanya sebuah tangisan identik dengan kesedihan atau
kebahagiaan yang luar biasa. Kalau versiku, menangis bukan berarti mesti sedih
dulu, mesti bahagia dulu dll. Aku sering menangis kalo lagi pengen nangis,
bahkan kalo lama nggak nangis, serasa ada yang nyeseg di dada (bukan di mata
lho ya). Bukankah itu sah saja? Aku pikir itu hanya pelepasan dari gejolak dan
undangan untuk rasa lega.
Tangisan bisa juga sebagai metode renungan. Apa yang bikin
nangis? Kenapa? Dan untuk apa.
Selalu ada do’a dalam titik airmataku. Semoga setiap bulir
air yang jatuh di pipiku bukan tangisan yang sia-sia dan bukan menjadi alasan
untuk menyesali masalalu. Bukan sebagai ekspresi kecewa pada diri sendiri dan
orang yang salah menilai tapi tangisan untuk awal semangat baru. Untuk
menyadari bahwa aku jauh dari kata “hebat”. Dan lebih termotivasi untuk menjadi
orang yang lebih bermakna. Dan tentunya berharap suatu saat nanti aku menangis
untuk kebahagiaan. Amin.
Sudah tak terhitung lagi berapa kali aku menangis semenjak
aku lahir. Ratusan mungkin, jutaan mungkin, atau tak terhingga. Entahlah, aku
bersyukur airmataku belum habis.
Terlepas
dari berbagai alasan yang melatarbelakangi tangisan, aktivitas mengeluarkan air
mata ini ternyata memberikan manfaat, baik secara psikologis, sosial, medis
maupun spiritual. Hal ini didasarkan pada beberapa penelitian para ilmuwan yang
mengaitkan aktivitas menangis dengan efek psikologis dan medis.
Secara psikologis,
menangis mampu membuat perasaan menjadi lebih baik, nyaman, dan tenang karena
tangisan dapat membantu menyingkirkan kimiawi stres dalam tubuh. Berkaitan
dengan ini, ada 4 manfaat menangis.
1.
Meningkatkan mood
Menangis
bisa menurunkan tingkat depresi seseorang. Dengan menangis, mood akan
terangkat kembali. Air mata yang dihasilkan dari tipe menangis karena
luapan perasaan atau emosi mengandung 24% protein albumin yang
bermanfaat dalam mengatur kembali sistem metabolisme tubuh. Air mata tipe ini
jelas lebih baik dibanding air mata yang dihasilkan dari iritasi mata.
2.
Mengurangi stress
Penelitian
menyatakan bahwa air mata ternyata juga mengeluarkan hormon stres yang terdapat
dalam tubuh yaitu endorphin leucine-enkaphalin dan prolactin.
3. Melegakan
perasaan
Sepertinya,
setiap orang merasakan hal ini setelah menangis. Setelah menangis, berbagai
masalah dan cobaan yang mendera, kekesalan dan amarah yang menyesak,
serta goresan sakit hati biasanya berkurang dan muncullah perasaan lega.
Perasaan lega yang dialami seseorang setelah menangis muncul karena sistem limbik, otak dan jantung menjadi lancar. Karena itu, keluarkanlah masalah di pikiran dengan menangis, jangan dipendam karena bisa menjadi tangisan yang meledak-ledak. Malu menagis sesak di dada, tertahan menjadi ganjalan perasaan yang sewaktu-waktu bisa memporakporandakan pertahanan jiwa, rasa bahkan raga.
Perasaan lega yang dialami seseorang setelah menangis muncul karena sistem limbik, otak dan jantung menjadi lancar. Karena itu, keluarkanlah masalah di pikiran dengan menangis, jangan dipendam karena bisa menjadi tangisan yang meledak-ledak. Malu menagis sesak di dada, tertahan menjadi ganjalan perasaan yang sewaktu-waktu bisa memporakporandakan pertahanan jiwa, rasa bahkan raga.
4. Menjadi
penghalang agresivitas
Orang yang
sedang memuncak tingkat emosinya, meletup amarahnya biasanya akan berlaku dan
bersikap lebih agresif bahkan bisa berdampak destruktif. Emosi yang diluapkan
dengan menangis mampu menjadi penghalang agresivitas. Seperti yang diungkapkan Oren
Hasson, seorang ilmuwan dari Univesitas Tel Aviv, Israel, bahwa dengan air
mata, seseorang sebenarnya tengah menurunkan mekanisme pertahanan dirinya dan
memberikan simbol dirinya tengah menyerah.
Pernyataan Orren
Hasson mengenai turunnya agresivitas seseorang dengan menagis bisa
memberikan sebuah kausalitas terhadap keberadaan dan hubungan seseorang secara
sosial. Menangis bisa membantu seseorang membangun sebuah komunitas. Biasanya
seseorang menangis setelah menceritakan masalahnya kepada teman-temannya atau
seseorang yang bisa memberikan dukungan, dan hal ini bisa meningkatkan
kemampuan berkomunikasi dan juga bersosialisasi. Dengan demikian, hubungan
sosial bisa menjadi lebih dekat, sehingga mampu memupuk persahabatan yang lebih
langgeng. Dalam hubungan kelompok seperti persahabatan atau pertemanan,
menangis bisa dianggap sebagai bentuk keterpaduan antara satu dengan lainnya.
Bahkan ada beberapa kasus yang mengidentifikasikan bahwa menangis bisa
menimbulkan empati seorang musuh untuk tidak menyerang lawannya. Air mata bisa
menjadi senjata yang meluruhkan amarah dan kebencian bahkan mungkin peperangan
(tentunya bukan air mata buaya!). Karena alasan inilah maka banyak jiwa yang
luluh karena tangisan, tersentuh, tergugah bahkan terbelenggu tangisan
seseorang..
Meski
demikian, menangis tidak akan selalu manjur dalam beberapa kondisi. Oleh sebab
itu dalam beberapa kesempatan menangis justru tak dapat memberikan dampak
seperti yang diperkirakan. Bahkan sebaiknya dihindari. Dalam bekerja misalnya,
aktifitas menangis bahkan sebaiknya tak perlu ditampakkan. Mungkin dalam
bekerja menangis justru akan ditanggapi sebagai bentuk kelemahan dan sifat
menyerah yang sangat dijauhi dalam dunia kerja. Tapi mungkin tak berlaku untuk
profesi yang menuntut empati
Dari segi
medis, kegiatan mengundang dan mencurahkan air mata ini memiliki beberapa
manfaat untuk kesehatan, khususnya mata. Manfaat tersebut sebagaimana dikutif
dari Beliefnet di antaranya :
- Membantu penglihatan. Cairan yang keluar dari mata dapat mencegah dehidrasi pada membran mata yang bisa membuat penglihatan menjadi kabur.
- Membunuh bakteri. Air mata berfungsi sebagai antibakteri alami. Tanpa obat tetes mata, sebenarnya mata sudah mempunyai proteksi sendiri. Di dalam air mata terkandung cairan yang disebut dengan lisozom yang dapat membunuh sekitar 90-95 % bakteri yang tertinggal hanya dalam 5 menit. Misalnya, bakteri yang terserap dari keyboard komputer, pegangan tangga, bersin, serta tempat-tempat yang mengandung bakteri.
- Mengeluarkan racun. William Frey, seorang ahli biokimia yang telah melakukan beberapa studi tentang air mata menyatakan bahwa air mata yang keluar saat menangis karena faktor emosional ternyata mengandung racun. Jadi, keluarnya air mata yang beracun itu menandakan bahwa racun dari dalam tubuh terbawa dan dikeluarkan melalui mata.
- Membantu melawan penyakit. Selain menurunkan level stres, air mata juga membantu melawan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh stres seperti tekanan darah tinggi. Bagaimanapun, perasaan tertekan dan tersakiti bisa membuat seseorang stres. Endapan stres yang terpendam dengan menahan tangisan inilah yang sering menimbulkan gejala tekanan darah tinggi dan penyakit lainnya yang dipicu oleh stres.
Menangislah, tapi jangan menangisi untuk mempertanyakan
keadilan Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar